Asuhan Keperawatan ( ASKEP ) Hipokalemia

Askep Hipokalemia. Asuhan keperawatan merupakan bentuk diagonosa awal dari seorang perawat, bidan, ahli medis dalam menangani suatu penyakit, biasanya kita akan menyusun asuhan keperawatan ini sesuai dengan kriteria penyakit dari pasien.tujuannya tak lain adalah kita membuat semacam bentuk analisa awal, pengenalan penyakit, mengetahui gejala, cara perawatan, diagnosa dan masih banyak yang lainnya.

Untuk melengkapi tugas sebagai seorang perawat kita harus bisa menyusun Askep ini, untuk itu kali ini info perawat akan berbagi kepada anda semuanya yaitu Askep Hipokalemia, dalam askep ini bisa anda jadikan sebagai refrensi untuk membuatnya, jika dirasa masih kurang silahkan anda bisa menyesuaikan dan mencari berbagai refresi baru dalam membuat Asuhan Keperawatan Hipokalemia, ok untuk menyingkat waktu langsung saja berikut rinciannya,

Askep Hipokalemia

asuhan-keperawatan-hipokalemia
Dalam askep ini saya sertakan 2 refrensi yang mungkin bisa membantu anda dalam pembuatan askep hipokalemia ini, anda bisa memilih sesuai dengan yang anda inginkan, berikut cuplikannya, dan untuk selengkapnya anda bisa mendownloadnya melalui link yang sudah saya sediakan, jadi tidak usah repot ya.

A. Pengertian

  • Hipokalemia adalah suatu keadaan dimana kadar atau serum mengacu pada konsentrasi  dibawah normal yang biasanya menunjukkan suatu kekurangan nyata dalam simpanan kalium total. (Brunner dan Suddarth, 2002).
  • Hipokalemia didefinisikan sebagai kadar kalium serum yang kurang dari 3,5mEq/L. (Price & Wilson, 2006)
B. Etiologi
  • Asupan kalium dari makanan yang menurun.
  • Kehilangan melalui saluran cerna.
  • Kehilangan melalui ginjal.
  • Kehilangan yang meningkat melalui keringat pada udara panas.
  • Perpindahan kalium kedalam sel.(Price & Wilson, 2006).
  • Adapun penyebab lain dari timbulnya penyakit hipokalemia : muntah berulang-ulang, diare kronik, hilang melalui kemih (mineral kortikoid berlebihan obat-obat diuretik). (Ilmu Faal, Segi Praktis, hal 209)
C. Patofisiologi

Kalium adalah kation utama cairan intrasel. Kenyataannya 98 % dari simpanan tubuh (3000-4000 mEq) berada didalam sel dan 2 % sisanya (kira-kira 70 mEq) terutama dalam pada kompetemen ECF. Kadar kalium serum normal adalah 3,5-5,5 mEq/L dan sangat berlawanan dengan kadar di dalam sel yang sekitar 160 mEq/L. Kalium merupakan bagian terbesar dari zat terlarut intrasel, sehingga berperan penting dalam menahan cairan di dalam sel dan mempertahankan volume sel. Kalium ECF, meskipun hanya merupakan bagian kecil dari kalium total, tetapi sangat berpengaruh dalam fungsi neuromuskular. Perbedaan kadar kalium dalam kompartemen ICF dan ECF dipertahankan oleh suatu pompa Na-K aktif yang terdapat dimembran sel.

Rasio kadar kalium ICF terhadap ECF adalah penentuan utama potensial membran sel pada jaringan yang dapat tereksitasi, seperti otot jantung dan otot rangka. Potensial membran istirahat mempersiapkan pembentukan potensial aksi yang penting untuk fungsi saraf dan otot yang normal. Kadar kalium ECF jauh lebih rendah dibandingkan kadar di dalam sel, sehingga sedikit perubahan pada kompartemen ECF akan mengubah rasio kalium secara bermakna. Sebaliknya, hanya perubahan kalium ICF dalam jumlah besar yang dapat mengubah rasio ini secara bermakna. Salah satu akibat dari hal ini adalah efek toksik dari hiperkalemia berat yang dapat dikurangi kegawatannya dengan meingnduksi pemindahan kalium dari ECF ke ICF. Selain berperan penting dalam mempertahankan fungsi nueromuskular yang normal, kalium adalah suatu kofaktor yang penting dalam sejumlah proses metabolik.

Homeostasis kalium tubuh dipengaruhi oleh distribusi kalium antara ECF dan ICF, juga keseimbangan antara asupan dan pengeluaran. Beberapa faktor hormonal dan nonhormonal juga berperan penting dalam pengaturan ini, termasuk aldostreon, katekolamin, insulin, dan variabel asam-basa.

Pada orang dewasa yang sehat, asupan kalium harian adalah sekitar 50-100 mEq. Sehabis makan, semua kalium diabsorpsi akan masuk kedalam sel dalam beberapa menit, setelah itu ekskresi kalium yang terutama terjadi melalui ginjal akan berlangsung beberapa jam. Sebagian kecil (<20%) akan diekskresikan melalui keringat dan feses. Dari saat perpindahan kalium kedalam sel setelah makan sampai terjadinya ekskresi kalium melalui ginjal merupakan rangkaian mekanisme yang penting untuk mencegah hiperkalemia yang berbahaya.

Ekskresi kalium melalui ginjal dipengaruhi oleh aldosteron, natrium tubulus distal dan laju pengeluaran urine. Sekresi aldosteron dirangsang oleh jumlah natrium yang mencapai tubulus distal dan peningkatan kalium serum diatas normal, dan tertekan bila kadarnya menurun. Sebagian besar kalium yang di filtrasikan oleh gromerulus akan di reabsorpsi pada tubulus proksimal. Aldosteron yang meningkat menyebabkan lebih banyak kalium yang terekskresi kedalam tubulus distal sebagai penukaran bagi reabsorpsi natrium atau H+.

Kalium yang terekskresi akan diekskresikan dalam urine. Sekresi kalium dalam tubulus distal juga bergantung pada arus pengaliran, sehingga peningkatan jumlah cairan yang terbentuk pada tubulus distal (poliuria) juga akan meningkatkan sekresi kalium.

Keseimbangan asam basa dan pengaruh hormon mempengaruhi distribusi kalium antara ECF dan ICF. Asidosis cenderung untuk memindahkan kalium keluar dari sel, sedangkan alkalosis cenderung memindahkan dari ECF ke ICF. Tingkat pemindahan ini akan meingkat jika terjadi gangguan metabolisme asam-basa, dan lebih berat pada alkalosis dibandingkan dengan asidosis. Beberapa hormon juga berpengaruh terhadap pemindahan kalium antara ICF dan ECF. Insulin dan Epinefrin merangsang perpindahan kalium ke dalam sel. Sebaliknya, agonis alfa-adrenergik menghambat masuknya kalium kedalam sel. Hal ini berperan penting dalam klinik untuk menangani ketoasidosis diabetik. (Price & Wilson, edisi 6, hal 341)

D. Manifestasi klinik
  • CNS dan neuromuskular; lelah, tidak enak badan, reflek tendon dalam menghilang.
  • Pernapasan; otot-otot pernapasan lemah, napas dangkal (lanjut)
  • Saluran cerna; menurunnya motilitas usus besar, anoreksia, mual mmuntah.
  • Kardiovaskuler; hipotensi postural, disritmia, perubahan pada EKG.
  • Ginjal; poliuria,nokturia. (Price & Wilson, 2006, hal 344)

E.  Pemeriksaan Diagnostik
  • Kalium serum : penurunan, kurang dari 3,5 mEq/L.
  • Klorida serum : sering turun, kurang dari 98 mEq/L.
  • Glukosa serum : agak tinggi.
  • Bikarbonat plasma : meningkat, lebih besar dari 29 mEq/L.
  • Osmolalitas urine : menurun
  • GDA : pH dan bikarbonat meningkat (Alkalosit metabolik). (Doenges 2002, hal 1049)
Diatas hanyalah sebagian cuplikan untuk mendownloadnya silahkan anda bisa memilihnya melalui link dibawah ini;
  • Download Askep Hipokalemia Versi 1 | DOWNLOAD
  • Download Askep Hipokalemia Versi 2 | DOWNLOAD
DAFTAR PUSTAKA

Guyton & hall. Kalium dalam cairan ekstraselular. EGC. 1997.
Mesiano taufik. Periodik paralisis. Available from http : //www.ommy & nenny.com
Ricardo Gabriel, dkk. Hipokalemic periodic paralisys. Available from
http : //www.associacion medica argentina.com
Anonim. Hipokalemic periodic paralisys. Available from http : //www.genetics.com
Anonim. Periodic paralisys. Available from http : //www.NINDS.com
Ranie nh. Hipokalemic periodic paralisys. Available from http : //www.webscapes.com
Anonim. Hipokalemic periodic paralisys. Available from http : //www.medlineplus.com
http://www.mayoclinic.com/health/hyperkalemia/MY00940 16 juni 2011

Sumber refrensi artikel :
  • http://www.askepkeperawatan.com/2015/11/askep-hipokalemia.html
  • http://kmb-umj.blogspot.co.id/2012/07/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html
Demikian informasi yang bisa saya berikan mengenai Askep Hipokalemia, semoga bisa membantu rekan perawat semuanya dalam menjalankan tugas sebagai perawat atau yang sedang menempuh akademik keperawatan, semoga bermanfaat dan terimakasih

0 Response to "Asuhan Keperawatan ( ASKEP ) Hipokalemia"

Posting Komentar

Berikanlah Kritik Dan Saran Yang Bisa membangun Blog ini,

Jangan Kawatir Saya Akan Berkunjung Balik Ke Blog Sobat Semuanya

AdBlock Detected!

Like this blog? Keep us running by whitelisting this blog in your ad blocker.


Suka Blog ini? Please disable your Adblocker to access this site! Thanks. Harap nonaktifkan Adblocker Anda untuk mengakses situs ini! Terimakasih.

This is Perawatina this blog in your ad blocker.

Thank you!

×